NUSANTAR45.ID, ACEH UTARA - Rumah Pahlawan Nasional Cut Meutia di Desa Mesjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, akan menjadi titik berkumpul eks kombatan GAM/KPA Wilayah Pase Syaridin bersama masyarakat dalam agenda silaturahmi, doa bersama dan santunan anak yatim/piatu, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus menyambut Hari Damai Aceh 2026. Namun, lebih dari sekadar seremoni, momentum itu hendak dijadikan ruang refleksi untuk merawat perdamaian Aceh yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.
Pemilihan Rumah Cut Meutia sebagai lokasi kegiatan juga memiliki pesan sejarah yang kuat. Dari tempat yang merekam jejak perjuangan salah satu pahlawan besar Aceh itu, peserta akan mengenang semangat perjuangan melawan penjajahan sekaligus menerjemahkannya dalam konteks kekinian: menjaga persatuan, mempertahankan perdamaian dan mendorong pembangunan Aceh.
KPA Wilayah Pase menegaskan, perdamaian Aceh bukan sesuatu yang layak dipandang sebagai warisan sejarah semata. Perdamaian harus dijaga bersama agar tidak kembali diganggu oleh kepentingan maupun provokasi yang dapat memecah persatuan masyarakat.
Karena itu, masyarakat Aceh Utara diimbau tidak mudah terseret provokasi, termasuk narasi yang berkembang dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan GAM di luar negeri maupun ASNLF.
Pesan yang akan dikedepankan dalam kegiatan tersebut sederhana namun tegas: perdamaian Aceh harus menjadi kepentingan bersama, bukan ruang untuk dipertarungkan kembali.
“Mari kita panjatkan doa semoga perdamaian Aceh selalu terjaga demi Aceh yang maju, bermartabat dan sejahtera,” demikian pesan KPA Wilayah Pase yang akan disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Selain doa bersama, peserta juga akan mengenang para pahlawan dan para pendahulu yang telah gugur serta mendoakan mereka yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Masyarakat juga diajak mendukung program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah pusat, sepanjang diarahkan untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Di tengah refleksi sejarah dan perdamaian itu, kepedulian sosial juga menjadi bagian penting. Kegiatan akan ditutup dengan santunan bagi anak yatim/piatu sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi penerus Aceh.
Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan Cut Meutia dan para pahlawan Aceh tidak cukup hanya dikenang melalui nama dan sejarah. Semangat itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menjaga persatuan, merawat perdamaian, menolak provokasi dan membangun Aceh secara bersama-sama.
Dari Rumah Cut Meutia, pesan yang hendak ditegaskan pun menjadi jelas: perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan memastikan perdamaian tetap hidup dan kesejahteraan benar-benar dirasakan masyarakat Aceh.[*/Red]

0 Komentar